Minggu, 07 April 2013



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak terlepas dari ilmu fisika, dimulai dari pengukuran hingga gaya-gaya yang kita lakukan. Untuk lebih memahami ilmu-ilmu fisika,sehingga dilakukanlah praktikum. Dengan acuan kepada materi-materi yang telah dipelajari.
Pratikum merupakan suatu praktek secara langsung berhubungan dengan sesuatu atau objek yang sedang dibahas .Pratikum adalah suatu pratek pengembangan dari teori yang dipelajari,sehingga mahasiswa /itidak hanya mengetahui teori tetapi mengetahui wujud yang dipelajari. Contoh saja pengukuran ,jika hanya teori maka akan sulit dipahami serta diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.Dalam pratikum Fisika Dasar 1 menyajikan pengukuran yang berkomposisi jangka sorong ,sperometer.Dan juga ditambah percobaan-percobaan lain meliputi kesetimbangan ,bandul sederhana dan gesekan .Kemudian dalam pratikum membutuhkan teori penunjang yang cukup untuk mendukung pelaksanaan pratikum.
Dalam kesempatan ini ,penulis menyajikan kumpulan teori penunjang dalam sebua makalah yang tersusun secara sistematis dan terperinci serta hadir dengan bahasa umum yang mudah dipahami.Makalah ini bersumber dari buku –buku yang berhuungan dengan teori pratikumserta bersumber dari internet yang telah disaring. Segenap mahasiswa/I khususnya jurusan pendidikan matematika dan ilmu pengetahuan alam. Agar dapat memanfaatkn makalah inisebagai tambahan teori penunjang dalam pratikum.sehingga dapat melakukan pratikum dengan hasil yang memuaskan. 

                                                           
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan, maka perumusan masalah dalam makalah ini “ Materi-Materi dalam Praktikum Fisika Dasar I”.
1.3 Tujuan
Sesuai dengan perumusan masalah yang telah dikemukakan maka pemelitian ini bertujuan: “untuk mengetahui materi-materi yang terdapat dalam praktikum fisika dasar I.

1.4 Manfaat
Dengan tercapainya tujuan penelitian ini, diharapkan hasilnya akan dapat menjadi ilmu tentang :
1.     Cara menggunakan alat-alat ukur.
2.     Mengetahui tingkat ketelitian suatu alat ukur
3.     Menentukan gaya-gaya yang bekerja pada titik kesetimbangan
4.     Menentukan nilai gravitasi bumi
5.     Menentukan koefisien gesekan statis dan kinetis

















BAB II
PEMBAHASAN


2.1 JANGKA SORONG
2.1.1 Deskripsi
Mistar ingsut yang merupakan nama lain dari jangka sorong, mistar geser jangka geser atau schuifmoat. Prinsipnya sama seperti mistar ukur yaitu adanya skala linear pada batangnya, sedangkan perbedaanya terletak pada cara pengukuran objek ukur. Pada jangka sorong dibuat rahang ukur gerak yang berfungsi sebagai sensorik untuk untuk menjepit benda ukur sewaktu melakukan pengukuran. Permukaan kedua rahang ini dibuat sejajar dan relatif kuat untuk menghindari kesalahan ukur. Batang ukurnya dibuat kaku dengan permukaan rahang keras sehingga tidak mudah lentur dan tahan aus, sebab rahang ukur gerak harus menggeser batang ini.
Ada beberapa bagian dari jangka sorong yang digunakan untuk mengukur atau menentukan dimensi  dalam, luar, kedalaman dan ketinggian dari benda uji. Yaitu pisau ukuran luar. Bagian yang digunakan untuk mengukur diameter dalam dan bagian yang digunakan untuk mengukur kedalaman benda yaitu pisau ukuran kedalam
Jangka sorong mempunyai 2 bagian utama yang disebut rahang tetap dan rahang sorong (rahang geser). Skala panjang yang tertera pada rahang tetap disebut skala utama, satu bagian utama panjangnya 1 mm. Adapun rahang sorong dilengkapi 10 bagian skala yang disebut skala nonius/vernier. Panjang skala nonius adalah 0,9 mm. Ini berarti antara 2 garis yang terdekat sama dengan 0,9 mm. Dengan demikian selisih skala utama dengan skala nonius adalah 9 mm. Ini berarti 1 skala nonius (jarak antar 2 garis yang berdekatan ) sama dengan 0,9 mm. Dengan demikian ketidakpastian jangka sorong bisa didapat dengan menggunakan rumus:
∆X = ½  x nst (nilai skala terkecil)
                              ∆X = ½  x 0,1 mm = 0,05 mm


2.1.2  Cara Menggunakan Jangka Sorong
·                 Bacalah skala utama yang berimpit / skala yang terdekat tepat didepan titik nol skala nonius
·        Bacalah skala nonius yang tepat  berimpit dengan skala utama
·        Hasil pengukuran, dinyatakan dalam bentuk persamaan berikut:
H = Skala Utama + ( Skala Nonius yang berimpit x 0,05 mm )

2.1.3  Jenis – Jenis Jangka Sorong
1. Jangka Sorong Nonius (Vernier Calper)
Ada dua jenis utama dari jangka sorong nonius. Jenis pertama hanya digunakan untuk mengukur dimensi luar dan dimensi dalam, sedangkan jenis kedua selain untuk mengukur dimensi luar dan dimensi dalam, juga dapat mengukur ketinggian.
Pada jenis pertama, untuk mengukur dimensi dalam maka harga yang dibaca pada skala linear harus ditambahkan dengan tebal dari ujung kedua rahang ukur. Biasanya mistar ingsut/jangka sorong ini mempunyai kapasitas ukur sampai 150 mm. Sedangkan untuk jenis besar dapat sampai 1000 mm. Kecermatan pembacaan tergantung dari skala noniusnya dalam hal ini adalah 0,10 mm ; 0,50 mm atau 0,2 mm.
2. Jangka Sorong Jam (Dial Caliper)
Mistar ingsut/jangka sorong jam, memakai jam ukur sebagai ganti dari skala nonius. Gerak lurus sensor dirubah menjadi gerak berputar dari jam penunjuk dengan perantaan roda pada poros ukur dan batang bergigi melekat di tengah – tengah sepanjang batang mistar. Berikut merupakan tabel dari pembagian skala untuk kecermatan ingsut jam.
Tabel 2.1 Pembagian skala kecermatan ingsut jam
kecermatan
Satu putaran atau 100 bagian skala jam menggeser sensor sejauh
Angka pada jam dalam mm setiap
Pembagian skala dalam selang
0,1 mm
0.05 mm
0,02 mm
10 mm
5 mm
1 mm
10 bagian
20 bagian
5 bagian
1mm
1 mm
1 mm

3. Jangka Sorong Ketinggian (Height Gauge)
Suatu jenis jangka sorong yang berfungsi sebagai pengukur ketinggian disebut jangka sorong ketinggian. Alat ukur ini dilengkapi dengan rahang ukur yang bergerak vertikal pada batang berskala tegak lurus dengan landasannya. Permukaan rahang ukur sejajar dengan permukaan bawah dari landasannya.
Skala utama pada batang ukur ada yang dapat diatur ketinggiannya dengan menggunakan penyetel yang terletak di puncaknya. Dengan demikian pembacaan ukuran dapat diatur mulai dengan bilangan bulat.
4. Mistar Ingsut Tak Sebidang ( Off Set Yaws Vernier Caliper)
Digunakan untuk mengukur jarak antara dua permukaan yang bertingkat
5. Mistar Ingsut Jarak Senter ( off set yaws vernier caliper )
Digunakan untuk mengukur jarak antara senter lubang dan digunakan untuk mengukur jarak dari senter ke tepi.
6. Mistar Ingsut Diameter Alur Dalam ( Grouve Vernier Caliper )
Digunakan untuk mengukur alur di dalam silender, diameter minimum 30 mm.
7. Mistar Ingsut Pipa (Tube Vernier Caliper)
Digunakan untuk mengukur tebal dinding pipa dan tebal plat yang melengkung
8. Mistar Ingsut Posisi Dan Lebar Alur ( Varnier Caliver With Hooked Jaws )
Digunakan untuk mengukur lebar alur dan posisi alur terhadap tepi atau alur lain.

2.1.4 Hal – hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan Jangka Sorong
·                 ahang ukur gerak harus dapat meluncur pada batang ukur dengan baik
·    Periksa kedudukan nol serta kesejajaran dari permkaan ke 2 rahang
·        Benda ukur sedapat mungkin jangan diukur hanya dengan menggunakan ujung dari rahang ukur (harus agak kedalam)
·        Tekanan pengukuran jangan terlampau kuat, sehingga memungkinkan pembengkokan rahang ukur ataupun lidah ukur kedalaman
·        Pembacaan skala nonius mungkin dilakukan setelah mistar ingsut/jangka sorong diangkat dari objek ukur dengan hati – hati


2.2 MIKROMETER SEKRUP
2.2.1 Deskripsi
Mikrometer pertama kali dibuat oleh William Gascoigne di abad ke 17. Tapi digunakan untuk mengukur jarak angular bintang. Kalau mikrometer screew yang dikenal sekarang dibuat oleh Jean Laurent Palmer dari prancis. Disebut pertama kali dengan nama Palmer.
Mikrometer merupakan alat ukur linear yang mempunyai kecermatan yang lebih tinggi, yaitu sampai 0,1mm. Jadi sebetulnya tidak dapat mengukur sampai 1 mikrometer (meskipun nama alat ini mikrometer). Kadang-kadang ada juga yang dibuat dengan kecermatan 0,005mm, 0,002mm, 0,001mm bahkan 0,0005mm (dibantu dengan skala nonius). Meskipun demikian, karena keterbasan dari ketelitian pembuatan alat ulir yang merupakan komponen utama dari sistem pengubah mikrometer ini, maka derajat kepercayaan atas hasil pengukuran akan turun apabila mikrometer mempunyai kecermatan lebih kecil dari 0,005mm.
Mikrometer sekrup mempunyai 2 skala, yaitu skala utama dan skala nonius ditunjukkan oleh selubung lingkaran luar.
Secara garis besar, pembagian skala mikrometer sekrup yaitu:
1.     Skala Utama
Terdiri dari skala  : 1,2,3,4,5,6,....mm dan seterusnya
Nilai Tengah        : 0,5;1,5;2,5;3,5....mm dan seterusnya
2.     Skala Nonius Putar
Terdiri dari skala 1-50 tap skala putar mundur satu putaran maka skla utama bertambah 0,5mm sehingga satu skala putar besarnya: 0,5/50 mm =0,01mm
Mikrometer sekrup mempunyai ketidakpastian pengukuran sebesar setengah dari nilai skala terkecil (skala nonius). Skala terkecil mikrometer sekrup adalah 0,001 mm. Dengan demikian ketidakpastian mikrometer sekrup bisa didapat dengan menggunakan rumus :
∆X = ½  x nst (nilai skala terkecil)
∆X = ½  x 0,01 = 0,005 mm


2.1.3 Cara Menggunakan Mikrometer sekrup
Cara menentukan hasil pengukuran dapat dilakukan dengan langkah berikut :
1.  Sekrup Penggeser diputar pelan-pelan sehingga rahang skala nonius harus tepat terimpit dengan skal utama. Bila tidak berimpit berarti terjadi kesalahan nol
2.  Putar sekrup penggeser rahang, dibuka pelan-pelan sampai ukuran bukaan cukup untuk benda yang akan diukur. Kemudian benda dipasang diantara kedua rahang dan sekrup penggeser, (putar lagi, pelan-pelan sampai benda terjepit)
3.  Pembacaan pada skala utama dan nonius dicatat
Hasil pengukuran dengan Mikrometer sekrup dapat dituliskan dengan:
H= (jumlah skala utama sampai atas skala nonius x 0,5 mm) + (jumlah skala nonius sampai garis skala nonius yang segaris dengan garis horizontal pada skala tetap x 0,001 mm)

2.1.4    Jenis - jenis Mikrometer Sekrup
Jenis – jenis mikrometer sekrup adalah diantaranya adalah sebagai  berikut :
1.   Mikrometer Luar  (outside micrometer)
Kapasitas ukur dari mikrometer yang paling kecil adalah sampai dengan 25 mm. Untuk mengukur dimensi luar yang lebih besar dari 25 mm sampai 100 mm. Yang masing – masing dengan kecermatan 25 mm. Sebagai mikrometer luar dibantu dengan penunjuk berangka (digit) yang memudahkan pembacaan hasil pengukuran.
2.  Mikrometer Luar dengan landasan dapat diganti (outside micrometer with interchangeable anvil)
Satu jenis mikrometer dibuat dengan rangka yang besar dan mempunyai kapasitas ukur yang relatif besar yaitu 0 – 100 mm ; 0 – 150 mm ; 100 – 200 mm ; dan seterusnya sampai kapasitas 900 – 1000 mm dengan kenaikan tingkat sebesar 100 atau 150 mm. Untuk semua kapasitas ukur tersebut, jarak gerak poros ukurannya tetap 25 mm. Dalam hal ini landasan tetap yang diganti. Sehingga didapat mikrometer luar dengan kapasitas ukur yang bervariasi.
3.   Mikrometer Indikator (indicator micrometer)
Adalah gabungan antara mikrometer dengan jam ukur, sebagian dari rangka mikrometer dipakai sebagai tempat mekanisme penggerak dari jarum ukur. Dalam hal ini landasan tetap mikrometer dapat bergerak dan berfungsi pula sebagai sensor dari jam ukur.
4.   Mikrometer Bangku (Bench Micrometer)
Sebagai mikrometer luar, biasanya mempunyai kecermatan yang tinggi (0,002 mm).
5.   Mikrometer UNI (UNI Micrometer)
Sebagai mikrometer luar, pengukuran tebal pipa, dan untuk pengukuran tinggi pada meja rata setelah landasan tetap dilepas.
6.   Mikrometer Dalam Silinder (Tubular Inside Micrometer)
Digunakan untuk mengukur diameter dalam. Kedua ujung dari mikrometer berfungsi sebagai sensor.
Kapasitas ukur :
50 – 75 mm sampai dengan 275 – 300 mm.
7.   Mikrometer Dalam (Inside Micrometer)
Digunakan untuk mengukur diametr dalam.
Kapasitas ukur dapat diubah dengan mengganti batang ukur ; 25 – 50 mm ; 50 – 200 mm ; 200 – 500 mm ; dan 200 – 1000 mm.
Batang pemegang berfungsi untuk mempermudah pengukuran diameter  yang dalam letaknya.
8.   Mikrometer Dalam Tiga Kaki (Holtest, Triobor)
Digunakan untuk mengukur diameter dalam dengan cermat , karena kedudukan mikrometer  selalu tetap di tengah lingkaran.
9.   Mikrometer Dalam jenis Rahang (inside Micrometer Caliper)
Digunakan untuk mengukur diameter dalam pada posisi yang sulit di mana mikrometer biasa tak bisa di pakai.
10. Mikrometer Luar (Outside Micrometer)
Digunakan untuk mengukur  dimensi luar, pada posisi yang sulit.
11. Mikrometer Kedalaman (Depth Micrometer)
Digunakan untuk mengukur kedalaman suatu lubang atau permukaan bertingkat. Batang ukur yang dapat diganti untuk mengubah kapasitas ukur.
12. Mikrometer Landasan V (V Anvil Micrometer)
Digunakan untuk mengukur diameter serta memeriksa kebulatannya.  Untuk mengukur diameter luar dari perkakas potong dengan 3 sampai 5 alur. Mengukur diameter kisar tap, dengan bantuan satu kawat.
13  Mikrometer Pipa (Tube Micrometer)
Digunakan untuk mengukur tebal dinding pipa plat lengkung dan sebagainya.
14. Mikrometer Pana ( Pana Mikrometer)
Poros ukur tidak berputar, hanya bergerak maju mundur. Muka ukur dapat diganti dengan berbagai bentuk, sehingga kemungkinan berbagai pengukuran, misalnya digunakan untuk mengukur:
-         Diameter kisar dari ulir
-         Roda gigi (Base tangent)
-         Tebal dinding pipa
-         Diameter alur luar
-         Tebal inti dari bor
-         Diameter kaki dari poros bintang
15.  Mikrometer Roda Gigin (Gear Micrometer)
Muka ukur berupa bola yang dapat diganti untuk bebrapa macam diameter. Kedua bola masing-masing diletakkan diantara dua gigi. Modul gigi adalah dari 0,5 sampai 5,25 mm.
16. Mikrometer Piringan (Disc Micrometer)
Dengan muka ukur yang lebar kemungkinan pengukuran jarak antara beberapa gigi, bagian bersayap, dan sebagainya.
17. Mikrometer Alur (Groove Micrometer)
Mengukur ukuran luar dan dalam, misalnya:
-         Lebar alur
-         Posisi alur
-         Lebar tonjolan
18. Mikrometer Luar degan Jam ( Outside Micrometer With Head)
Landasan tetap merupakan sensor dari jam ukur. Fungsi sama seperti         mikrometer indikator , yaitu untuk mengukur dimensi produk dalam jumlah besar.
19. Mikrometer Kepala ( Head Micrometer )
Mikrometer yang mempunyai rangka. Dipasang pada alat lain, misalnya untuk mendorong meja pada mikroskop atau profil proyektor untu suatu jarak tertentu sesuai dengan yang ditunjukkan skala mikrometer.


BAB  III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

·        Ketelitian jangka sorong adalah 0,05 mm
·        Ketelitian micrometer sekrup adalah 0,01 mm
·        Ketelitian spherometer adalah 0,01 mm
·        Untuk mengukur jari-jari kelengkungan lensa dapat digunakan rumus :
                              R- (1/2)h + s²/ 6h


3.2KRITIK DAN  SARAN
Dari makalah yang telah dibuat, pasti terdapat kesalahan dalam penulisan isi dari makalah ini.maka dari itu  kami mengharapkan  kritik dan saran  yang membangun dari pembaca agar makalah – makalah yang akan dibuat berikutnya lebih  sempurna.Atas kritik dan saran yang diberikan kami ucapkan terima kasih. 













DAFTAR  PUSTAKA



Foster, Bob. 2004. Fisika Terpadu. Bandung: Erlangga
Hidayat, S. Lilik. 1990. Kamus Fisika. Klaten: Intan Pariwara
Kamajaya, K. 2003. Fisika untuk SMU Kelas I. Jakarta: Ganeca
Kanginan, Marten. 2004. Fisika Untuk SMA Kelas X.  Jakarta: Erlangga Rochim, Taufik dan Soetarto. 1980. Teknik Pengukuran (  Metrologi Industri ). Semarang: PT. Cipta Sari
Ruwanto, Bambang. 2003. Asas-asas Fisika. Jakarta: Yudistira
Tim Fisika Dasar I. 2006. Penuntun Pratikum Fisika Dasar I. Jambi: UnIversitas Jambi
Young, D Hugh dan Roger A. Freedman. 2002.Fisika Universitas. Jakarta : Erlangga

0 komentar:

Poskan Komentar